PHR dan UM Riau Kolaborasi Majukan Desa Wisata Hutan Adat Imbo Putui

    PHR dan UM Riau Kolaborasi Majukan Desa Wisata Hutan Adat Imbo Putui

    PEKANBARU - Semangat kolaborasi membahana di Riau! PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menjalin kemitraan strategis dengan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) demi mengukuhkan pengelolaan Desa Wisata Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar. Langkah ini diharapkan mampu mentransformasi potensi alam dan budaya Hutan Adat Imbo Putui menjadi destinasi ekowisata yang unggul dan berkelanjutan.

    Iwan Ridwan Faizal, Manajer Community Involvement & Development (CID) PHR Regional I, mengungkapkan bahwa UMRI dipilih sebagai mitra akademik untuk mewujudkan visi menjadikan Hutan Adat Imbo Putui sebagai tolok ukur pengelolaan desa wisata berbasis hutan adat. "Program Desa Wisata Hutan Adat Imbo Putui merupakan komitmen PHR untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat Riau. Tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, PHR terus mendukung keberlanjutan lingkungan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar daerah operasi di Riau, ” ujar Iwan Ridwan Faizal dalam keterangannya di Pekanbaru, Rabu (29/10/2025).

    Lebih dari sekadar hamparan hijau seluas 251 hektare, Hutan Adat Imbo Putui merupakan lambang perjuangan masyarakat Petapahan dalam menjaga warisan leluhur. Kawasan ini kaya akan nilai ekologis dan budaya, menjadi rumah bagi beragam flora langka seperti anggrek dan kantong semar, serta tanaman obat, bahkan menjadi habitat bagi fauna endemik, mamalia, dan reptil.

    Sejak diresmikan sebagai hutan adat pertama di Riau oleh Presiden Joko Widodo pada 21 Februari 2020, Hutan Adat Imbo Putui terus berbenah. Upaya ini diwujudkan melalui pelatihan Community-Based Tourism (CBT) yang diberikan kepada masyarakat lokal, perangkat desa, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Mereka dibekali pemahaman bahwa peran mereka bukan hanya sebagai penjaga alam, melainkan sebagai motor penggerak utama pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

    Dengan mengadopsi konsep CBT, masyarakat Petapahan kini melihat hutan bukan hanya sebagai area konservasi, tetapi sebagai ruang multifungsi: tempat belajar, berkarya, dan hidup yang mampu memberikan manfaat ekonomi serta sosial. "Di tengah tantangan zaman, kolaborasi seperti ini menjadi bukti bahwa pelestarian alam dan pembangunan masyarakat bisa berjalan beriringan, " pungkas Iwan. (PERS

    phr umri desa wisata hutan adat ekowisata riau
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Polda Riau Amankan Pelaku Pembukaan Lahan...

    Artikel Berikutnya

    KPK Ungkap 10 Tersangka OTT Gubernur Riau...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    KPK Panggil Rudy Tanoe Jadi Saksi Kasus Bansos Beras Kemensos
    ASN Jadi Garda Terdepan Pencegahan Kanker Serviks Lewat Vaksinasi Massal
    Suami Istri Parsana dan Sanely Mandasari Ditahan Lagi Terkait Kasus Pungli PTSL di Pelalawan
    Lapas Tembilahan Kembali Gelar Razia Rutin Kamar Hunian, Deteksi Dini Gangguan Kamtib
    Dewa Ayu Laksmi: Integrasi Gender dan Inklusi Sosial Perkuat Penanggulangan Bencana di Jatim

    Ikuti Kami